Getuk Goreng Sari Murni Sokaraja 2

Getuk Goreng Sokaraja

Pada ruas pendek Jalan Jendral Soedirman, Sokaraja, yang menjadi pintu masuk ke kota Purwokerto, ada pemandangan mencolok. Toko-toko berderet menjual aneka makanan kering dengan etalase bergaya meriah. Semuanya memasang lampu neon reklame dengan tulisan Getuk Goreng Sokaraja. Jumlahnya kurang lebih 40 buah.

Tempat ini memang masih menyimpan sejenis getar turistik dengan banyak nuansa. Lukisan dan batik Sokaraja masih mencoba menarik perhatian orang dari beberapa toko yang memajangnya, meski masa jayanya telah lewat di tahun 1980-an.

Soto Sokaraja dengan sambel kacang tanah yang membedakannya dari soto Kudus, Yogyakarta atau Semarang, dijual di puluhan warung sepanjang jalan ini. Keripik tempe sebetulnya lebih berkarakter Purwokerto, tak luput juga dijajakan secara masal. Ini mungkin karena kaitan pasarnya yang khas di Sokaraja yakni pasar makanan. Dapat dilihat bahwa toko di Purwokerto tidak populer kecuali toko penjual makanan Getuk Goreng bisa dikatakan menjadi primadona. Getuk goreng dikemas dalam keranjang bambu (besek) berbagai ukuran dan dipajang di lemari kaca dengan lampu yang terang di malam hari. Getuk gorengnya sendiri ditampilkan juga di balik kaca. Makanan yang terbuat dari singkong, gula kelapa, kelapa, minyak sayur dan tepung beras ini menampilkan citra tradisionalnya.

 

Sejarah Getuk Goreng Sokaraja

“Bom getuk goreng terjadi di tahun 1980-an, setelah di Baturraden dibangun Lokawisata. Lonjakan wisatawan ke objek Goa Jatijajar (Kebumen), Goa Lawa (Purbalingga), Baturraden (Purwokerto) dan Teluk Penyu (Cilacap), benar-benar menghidupkan bisnis getuk”, kata Hadi Mochtar, pemilik merek Sari Murni yang tergolong favorit di Sokaraja.

Pada zaman dahulu (zaman Belanda) getuk goreng tak lebih dari makanan lokal yang dibuat secara kecil-kecilan dan dijual dari kampung ke kampung. Perintisnya ada tiga orang yang mengkhususkan diri membuat dan menjual getuk goreng. Ketiganya adalah Haji Sanpringad (bapak Haji Thohirin), Karta dan Sanwirdja (bapak Hadi Mochtar).

“Dulu hanya ada tiga toko penjual getuk goreng, yaitu Asli (H. Thohirin), Murni (Karta) dan Sari Murni (Sanwirdja). Sebelum tahun 1980 getuk goreng belum terkenal. Buktinya Pak Thohirin pernah gulung tikar tahun 1975, dan bapak saya bernasib sama tahun 1978”, kata Mochtar yang waktu itu tertolong karena menjual lukisan.

 

Revolusi Getuk Goreng Sokaraja

Sekarang Asli adalah dinasti getuk terbesar di Sokaraja. Haji Thohirin dan anak-anaknya memegang merek itu dan mempunyai 6 buah toko besar berjajar-jajar. Mochtar sendiri merupakan anak tunggal. Karena hal itu berpengaruh juga dalam bisnis getuk.

Bisnis ini memang hanya mempersaingkan kualitas (rasa) yang tergantung kepada resep para pembuat, soal harga semua sama, karena letak toko saling berdekatan. Faktor kunci adalah keuletan mencari pelanggan. Para pengusaha baru yang tidak berdarah getuk pun bersaing melalui kelincahan berebut jalur pemasaran.

“Sejak ramainya Baturraden, banyak bus wisata yang mampir untuk membeli getuk. Apalagi sejak lagu Gethuk Goreng di populerkan Waljinah, sepertinya orang Semarang, Yogya dan Solo menjadi kenal sekali dengan getuk goreng”, kenang Mochtar.

Usaha getuk pun mulai membangkitkan minat banyak penduduk Sokaraja. Banyak penjual yang membeli dari pembuat dan menjualnya lagi di toko sendiri. Menurut Mochtar, ada tiga orang pemilik kelontong (bukan penduduk asli) yang banting setir jualan getuk. Bahkan mereka membajak para tukang masak dan memproduksi sendiri.

 

Rahasia Mendatangkan Banyak Pembeli

Berbagai kiat mencari pelanggan pun bermunculan. Pertama getuk dijual bersama makanan khas yang lain, seperti keripik, tempe, klanting dan keripik belut, serta makanan kemasan dan minuman botol yang banyak dibutuhkan pelancong. Kiat kedua, mereka berusaha membina hubungan dengan para kru bus wisata.

“Saya menjamin sopir, kenek, kondektur dan panitia rombongan. Saya memberi imbalan dan menelepon mereka secara teratur, bahkan sampai ke pemilik bus”, papar Mochtar yang setiap hari mendatangkan 75 kilo singkong dari Wonosobo dan 200 besek dari Banjarnegara ini. Tujuan kiat kedua ini jelas, membuat bus wisata mampir ke Sokaraja dan memberi kesempatan penumpang membeli getuk.

Kiat merangkul awak bus ini dilakukan hampir semua toko getuk. Bahkan tak segan mereka menggaji calo-calo di Baturraden untuk membujuk dan menggiring sopir bus ke toko getuk tertentu. Mochtar juga mengaku punya orang di Baturraden. Kalau musim libur anak sekolah, paling tidak 15 bus/hari mampir di toko Mochtar, sampai ia kewalahan dan pembeli pun meluber ke toko-toko lain.

“Saya memilih menjalin sistem kekeluargaan. Mengenal satu per satu awak bus, berhubungan dengan pemilik bus, membantu kepentingan mereka sebisa saya, misalnya sewaktu bus mereka rusak saya meminjamkan telepon kepada kru yang ingin bicara dengan bos atau keluarga”, papar Mochtar.

Penjual yang kurang berhasil membina pelanggan pun tak kurang akal. Mereka menggunakan pengasong untuk menyerbu bus-bus yang transit di Sokaraja. Harga asongan dan toko sama, yaitu Rp 30000/kg.

Namanya dagang, persaingan seperti itu biasa. Alhamdulillah usaha saya lancar”, ujar Mochtar yang punya 5 anak dan 11 cucu.

 

 

InstagramYoutube
Instagram Getuk Goreng Sari MurniYoutube Getuk Goreng Sari Murni

Demas Reyhan Adritama

Seorang siswa TKJ SMK Telkom Purwokerto yang berusaha meningkatkan keahlian untuk menjadi Kreator Konten Digital

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *