Getuk Goreng Sari Murni Sokaraja

 

Getuk Goreng Sokaraja

 

Sokaraja kota kecil di wilayah Kabupaten Banyumas, di samping dikenal sebagai penghasil getuk goreng, juga mempunyai pembatik-pembatik dengan corak Banyumasan, lukisan Sokaraja dan Soto Sokaraja. Di sepanjang jalan raya Sokaraja berderet pedagang getuk goreng, dengan menampilkan sajian tersendiri. Namun rasanya hampir sama, yaitu manis dan gurih.

 

Awal Mula Getuk Goreng Sari Murni

Salah satu dari 20 pengusaha getuk goreng sokaraja yang sudah cukup terkenal, Hadi Muchtar, dengan produknya Sari Murni. Dia adalah penerus usaha getuk goreng milik ayahnya (Sanwirdja). Pada tahun 1950, Sanwirdja memulai membuat getuk goreng secara kecil-kecilan, yang hanya dijual dalam warungnya.

5 tahun usaha ini dijalani dengan pasang surut. Baru tahun 1955, usaha ini nampak menunjukkan kemajuan yang berarti. Langganan mulai bertambah dan pelancong dari luar daerah pun sudah banyak yang mengenal dan menyukai getuk gorengnya. Kemajuan ini berlangsung terus hingga tahun 1970.

Tahun 1971, usahanya mulai mengalami surut. Karena tempat berjualan yang sering berpindah-pindah dan produksinya belum mempunyai merk dagang. Tahun 1977, Sanwirdja tutup usia. Selama 2 tahun usahanya itu mengalami kevacuman. Sehingga Hadi Muchtar, yang merupakan anak satu-satunya Sanwirdja merasa terpanggil hatinya untuk melanjutkan usaha ayahnya. Walaupun hanya berbekal ijazah SMA namun Hadi merasa optimis dengan kemampuan mengelola usaha getuk goreng. Bakat dagang dari orang tuanya sudah menurun pada dirinya.

Dengan Pengalaman yang dialami orang tuanya, yaitu berpindah-pindah tempat mengakibatkan surutnya usaha, maka Hadi mendirikan tempat permanen yang terletak di pinggir jalan raya sebagai tempat usahanya dan diberi nama Getuk Goreng Sari Murni.

 

Lebih Mengenal dengan Getuk Goreng Sari Murni

Makanan kecil yang dibuat dari ketela pohon (singkong) ini berasa manis yang cocok untuk oleh-oleh dan pantas sebagai hidangan keluarga. Kapasitas produksi Sari Murni 50 kg/hari, dengan bahan-bahan yang didapat dari daerah sekitar.

Singkong yang didatangkan dari Banjarnegara, merupakan singkong yang dianggap baik oleh Hadi. Sedangkan gula merah diambil dari daerah Cilongok (Penghasil gula merah terbesar di Kabupaten Banyumas). Untuk bahan-bahan penunjang pembuatan getuk goreng lainnya, dibeli dari daerah sendiri.

 

Hadi yang mengakui tidak setiap hari makan getuk goreng tapi kadang-kadang bisa menghabiskan beberapa biji bila merasa kangen, telah merasa mantap dengan usahanya yang diselingi dengan makanan-makanan lain pelengkap getuk goreng, seperti keripik tempe, jenang ketan, nopia/mino, sale pisang (kering/basah), sarang madu, dan emping.

 

Getuk Goreng Sari Murni, dalam pemasarannya dikemas dalam besek dengan berbagai ukuran serta harga. Seperti Rp30.000/kg. Bagi pembeli yang sama sekali belum pernah mencicipi maka diberikan getuk cicipan untuk mengenalkan rasa.

 

Hadi Muchtar yang berpenampilan sederhana dengan 5 orang anak dan 11 cucu ini ternyata cukup ramah dalam melayani pembeli. Langganannya sudah cukup banyak. Etalase yang cukup sederhana namun bersih itu, sempat mengangkatnya dalam berbagai kejuaraan khususnya dalam bidang kesehatan.

 

Getuk goreng yang memiliki keawetan hingga 1 minggu itu ternyata tidak hanya enak yang telah digoreng saja, melainkan yang masih basah pun getuknya juga enak.

 

Menurut Hadi Muchtar, golongan pembeli bisa dikelompokkan dalam beberapa kategori, seperti pembeli lokal, pelancong pemesan luar daerah, para agen dan pengecer. Pelancong dari luar daerah merupakan pembeli yang paling banyak.

 

Untuk para pengecer, biasanya hanya dijual di tempat-tempat yang tak jauh dari daerah Sokaraja. Seperti Purwokerto, Baturraden dan tempat-tempat rekreasi daerah sekitar. Meskipun demikian, para pembeli lebih suka beli dari daerah Sokaraja, yang dipercaya keasliannya.

 

Cerita Kecil dari Getuk Goreng Sari Murni

Hadi Muchtar dibantu istrinya mengawasi dan mengontrol pembuatan getuk goreng. Dari pukul 07.00-21.00 WIB getuk goreng Sari Murni telah siap melayani pembeli.

 

Bus-bus wisata dari luar daerah seperti Yogyakarta, Semarang, Wonosobo, Temanggung, Magelang serta daerah sekitarnya merupakan langganan tetap yang selalu menyempatkan waktunya untuk sekedar mencicipi ataupun membeli Getuk Goreng Sari Murni sebagai oleh-oleh.

 

Melihat cara pembuatan serta bahan-bahan yang sangat mudah diperoleh, pasti orang lain dengan mudah pula dapat membuatnya. Namun rasanya pasti akan lain dengan getuk-getuk yang dibuat oleh penduduk Sokaraja. Kata Hadi Muchtar, yang memiliki keyakinan bahwa getuk goreng yang dibuat orang asli Sokaraja pasti memiliki ciri tersendiri.

 

Setiap hari Hadi Muchtar selalu berada di tokonya guna melayani pembeli. Selain istrinya, anak-anak dan cucu-cucunya pun juga diajarkan bagaimana sebaiknya melayani pembeli. Maka tak mengherakan bila nampak anak-anak dan cucu-cucunya yang melayani pembeli di Sari Murni nampak ramah-ramah dan luwes.

 

Hadi Muchtar sekali-kali mengadakan rekreasi dengan keluarga. Meskipun sangat jarang itu dilakukan oleh keluarga Hadi Muchtar, karena toko tidak bisa ditinggalkan dan Hadi sendiri mengakui bahwa melayani para pembeli sudah merupakan hiburan yang sangat menyenangkan.

 

Getuk Goreng Sokaraja akan lebih nikmat bila disantap pada waktu sore hari dengan secangkir teh pahit. Karena rasa getuknya sendiri yang sudah sangat manis dan gurih. Jika getuk yang masih basah atau belum digoreng lezat disantap dengan parutan kelapa muda, dan pantas untuk hidangan.

 

Kini makanan khas dari Sokaraja itu telah mulai banyak dikenal masyarakat luas dengan masing-masing pengusaha  yang tetap mempertahankan mutu dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya pada para pembeli.

 

InstagramYoutube
Instagram Getuk Goreng Sari MurniYoutube Getuk Goreng Sari Murni

 

Demas Reyhan Adritama

Seorang siswa TKJ SMK Telkom Purwokerto yang berusaha meningkatkan keahlian untuk menjadi Kreator Konten Digital

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. 22 Januari 2019

    […] blognya saya belajar membuat konten artikel. Artikel pertama yang saya publish adalah Getuk Goreng Sari Murni, yang saat itu masih menggunakan CMS Gratisan, yaitu Blogger. Setelah 5 artikel saya buat, saya […]

  2. 23 Januari 2019

    […] blognya saya belajar membuat konten artikel. Artikel pertama yang saya publish adalah Getuk Goreng Sari Murni, yang saat itu masih menggunakan CMS Gratisan, yaitu Blogger. Setelah 5 artikel saya buat, saya […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *